Selasa, Oktober 14, 2008

Lyric Jiwa

Karya : Riverza

Sept 27, 2008 01.28 am


Lyric Jiwa

jiwaku...
14 tahun telah lewat,
banyak hal terjadi, semua telah berubah,
ada yang pergi dan ada yang datang,
selama itu aku telah terkurung,
aku menutup mata untuk semua,
hingga tidak ku kenal siapa engkau.

tertutup...
semua yang dulu ada entah kemana,
sekarang aku ragu ...,
masihkah engkau bersamaku?.
kuanggap engkau tinggal di masa silam,
lantas apakah aku yang sekarang dan yang masih bernapas?
adakah dia yang tidak aku kenal?
ataukah bayangan pikiranku saja kalau engkau masih ada?
lantas kemana harus mencari?
agar aku bisa kembali utuh?

jauh...
jauh sudah,
tak kukenal engkau kini,
yang kupunya sekarang selembar kertas kosong yang dulunya putih bersih,
sekarang menjadi buram...
kumal...
lusuh dan tetap kosong.

Harapan?
tersendat melangkah,
menggapai,
menanti atau sia?


Cinta?
mengurung dan membutakan,
menjadi racun bagi diri,
ataukah dia sendiri yang terkurung hingga ...
buta?

Siapa yang mengenalmu?
wahai yang tersia ....,
adakah masamu untuk kembali?
dimanakah dirimu yang agung?
apakah yang tersisa buatku?

Hampa...
akankah kau bertahan tinggal?
punyakah engkau mata untuk melihat?
punyakah engkau hati untuk merasa?
punyakah engkau pikiran memikirkanku?
bijaksanakah engkau?

Aku...
aku hidup dalam duniaku.
Siapakah yang mengenalku?

~o~

Senin, Oktober 13, 2008

Dialog Pikiran - Sebuah Sajak Bebas

karya : Riverza

Sept 27, 2008 [06:30 am]

dialog pikiran

prolog:

kemarin, kau masih semangatku
kau beri bahagia bagi hatiku
rasa yang kau cipta damai nian, ...
terima kasih yang kau berikan ...

satu hari ada bahagia,
ada warna pelangi buat jiwa putih,

hari ini .....
kosong .....
hampa .....
tiada rasa .....

bila esok hari, semua berbalik
kau menghancurkan,
meremukkan .... tiada iba .....
kau renggut yang kau cipta

hilang ...
musnah ...
lenyap ...
tiada arti

kau tinggalkan luka hati.


dialog :

bertanya ...
bertanya aku,
”siapa engkau ?”
”dingin ... hening... kelam ”,
 itu jawabmu.

”oh .....,
salahkah aku menyebutmu malaikat kemarin ?”,
”lalu apa arti semua itu bagimu ?”
tanyaku lagi.

berkata engkau, ”bukan ... bukan,
aku bukan,
semua tak punya arti,
layaknya debu yang terbawa angin”

”jadi untuk apa air mata ini?”
isakku tertahan.

teriakmu,
”hanya engkau yang tahu!”

aku lalu diam ...
diam ...
diam

”aku bukan matahari yang kau anggap,
aku pelita kecil di siang hari ...,
matamu telah menipumu!”,
tegasmu.

”ooh .....”,
terucap pelan dari bibirku,
lalu.....,
terkulai ..... ,
aku

~o~